Ayam Gepuk Pak Gembus mengumumkan pamit setelah 13 tahun beroperasi. Pengumuman itu disampaikan lewat akun Instagram resmi @ayamgepuk_pusat, dengan kalimat yang menyebut pintu gerai akan tertutup pada 12 Oktober 2026.
Yang menarik, tanggal itu bukan tanggal sembarangan. Pak Gembus pertama kali membuka outlet di Srengseng, Pesanggrahan, Jakarta Barat, juga pada 12 Oktober. Tanggal lahir dan tanggal pamit kebetulan sama.
Namun sampai sekarang belum ada konfirmasi resmi apakah seluruh gerai benar-benar tutup permanen, hanya sebagian, atau justru sedang menyiapkan perubahan merek dan konsep baru. Tim detikFood sudah menghubungi pihak Pak Gembus, tetapi belum mendapat balasan hingga berita itu tayang.
Intinya: Pak Gembus mengumumkan pamit setelah 13 tahun, dengan 12 Oktober 2026 sebagai penanda. Jejak bisnisnya besar: sekitar 700 cabang, 460 di Indonesia dan 102 di Malaysia. Yang belum jelas: apakah ini penutupan permanen atau rebranding. Sampai berita ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi.
Isi Pengumuman Sesungguhnya
Membaca pengumuman itu dengan saksama penting, karena pilihan katanya memberi petunjuk.
"Ada kalanya kita harus pamit sejenak. 13 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Ada tawa, cerita, dan kenangan yang tak mudah dilupakan."
Perhatikan frasa "pamit sejenak". Bukan "menutup usaha", bukan "menghentikan operasional". Kalimat penutupnya juga berbunyi, "Sampai jumpa, atau mungkin sampai kita bertemu dengan cara yang berbeda."
Frasa "dengan cara yang berbeda" inilah yang membuat banyak pihak menduga arahnya ke perubahan konsep atau merek, bukan penghentian total. Tetapi perlu ditegaskan: ini masih dugaan, bukan pernyataan resmi. Hingga kini tidak ada keterangan yang mengonfirmasi arah sebenarnya.
Satu hal yang lebih spesifik: pengumuman itu secara khusus menyebut pelanggan di kawasan Jabodetabek, dengan kalimat "pintu tertutup rapat pada 12 Oktober nanti". Penyebutan wilayah tertentu ini memunculkan pertanyaan apakah cakupannya memang terbatas pada Jabodetabek.
Jejak 13 Tahun yang Tidak Kecil
Untuk memahami kenapa pengumuman ini jadi perhatian, perlu dilihat skala bisnisnya.
Pak Gembus dirintis Rido Nurul Adityawan pada 2013 dengan modal awal Rp19 juta. Outlet pertamanya di Srengseng, Jakarta Barat. Produk andalannya ayam goreng yang digepuk hingga empuk, disajikan dengan sambal bawang bercampur kacang mede. Kombinasi inilah yang membedakannya dari ayam geprek biasa.
Dari satu outlet, bisnisnya berkembang jauh. Data Kementerian Perdagangan pada Juni 2026 menyebut Pak Gembus beroperasi di sekitar 700 cabang, dengan rincian:
- Sekitar 460 gerai di Indonesia
- Sekitar 102 gerai di Malaysia, dengan bumbu tetap didatangkan dari Indonesia
Prestasinya juga tercatat. Pada 2023, Pak Gembus masuk daftar top 10 Asian Cuisine GrabFood Merchant yang dipublikasikan di Nasdaq, Amerika Serikat. Sebelumnya pada 2019, brand ini meraih penghargaan sebagai bisnis dengan jumlah outlet terbanyak dari GoFood dan GrabFood.
Di Malaysia, brand ini bahkan mengklaim sebagai brand ayam gepuk pertama yang mendapat sertifikasi halal JAKIM, dengan 62 outlet bersertifikat.
Model Kemitraan: Modal Rp125 Juta, Royalti per Potong
Bagi calon mitra waralaba, struktur biaya Pak Gembus penting dipahami karena inilah yang menentukan hitungan untung rugi.
Skema kemitraannya disebut semi auto pilot: manajemen dan operasional outlet diatur oleh mitra sendiri, bukan oleh pusat. Selain itu, model ini tidak memakai sistem bagi hasil. Artinya seluruh keuntungan penjualan menjadi milik pemilik outlet.
Sebagai gantinya, ada royalti fee sekitar Rp550.000 per potong ayam, dan paket kemitraan dibuka mulai Rp125 juta dengan ketentuan ruko minimal 32 meter persegi.
Struktur seperti ini punya dua sisi. Di satu sisi, mitra menikmati kebebasan penuh atas keuntungan tanpa potongan pusat. Di sisi lain, hampir seluruh risiko operasional ada di pundak mitra: sewa tempat, karyawan, kebersihan, sampai pemasaran lokal.
Yang Perlu Diwaspadai Sebelum Ikut Waralaba
Kasus seperti ini memberi pelajaran praktis bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan waralaba kuliner. Ada beberapa hal yang layak diperiksa lebih dulu:
- Cek rekam jejak penutupan gerai. Beberapa outlet yang tutup dalam waktu berdekatan adalah sinyal yang perlu ditanyakan langsung ke pusat, bukan diabaikan.
- Pahami siapa yang menanggung risiko. Pada skema tanpa bagi hasil, keuntungan memang milik mitra, tetapi kerugian juga sepenuhnya milik mitra.
- Hitung biaya royalti terhadap margin. Royalti per potong terlihat kecil, tetapi harus diuji pada volume penjualan realistis, bukan volume ideal.
- Minta kejelasan dukungan pemasaran. Waralaba yang tidak lagi aktif berinovasi atau berpromosi membuat mitra berjuang sendiri.
- Periksa legalitas dan perjanjian tertulis. Model kemitraan di Indonesia diatur dalam peraturan pemerintah tentang waralaba, dan perjanjian harus jelas soal jangka waktu serta pengakhiran.
Data Asosiasi Franchise Indonesia menunjukkan sektor makanan dan minuman mendominasi sekitar 60 sampai 65 persen dari total bisnis waralaba di Indonesia. Artinya persaingannya ketat, dan memilih merek yang tepat sama pentingnya dengan memilih lokasi.
Yang Belum Jelas dan Cara Memantau
Perlu ditegaskan supaya tidak salah paham: sampai berita ini disusun, tidak ada satu pun pernyataan resmi yang memastikan Pak Gembus tutup permanen. Yang ada baru pengumuman bernada perpisahan, dan itu berbeda dari pengumuman penutupan.
Karena itu, satu-satunya cara yang bisa diandalkan adalah memantau kanal resmi brand:
- Instagram @ayamgepuk_pusat (dan akun resmi cabang Malaysia)
- Situs resmi pakgembus.com untuk daftar outlet dan pengumuman
- Aplikasi pesan antar, untuk melihat gerai mana yang masih menerima pesanan
Bagi pelanggan, langkah paling praktis adalah mengecek status gerai terdekat lewat aplikasi pesan antar sebelum berangkat. Bagi calon mitra, tanyakan langsung ke pusat mengenai kelanjutan kerja sama sebelum mengambil keputusan apa pun.
Kesimpulan
Pengumuman pamit Pak Gembus setelah 13 tahun adalah pengingat bahwa skala besar bukan jaminan keabadian. Bisnis yang sempat tumbuh dari Rp19 juta menjadi ratusan gerai pun bisa mengambil keputusan besar seperti ini.
Yang paling penting sekarang adalah menahan diri dari menyimpulkan. Belum ada konfirmasi resmi soal tutup permanen atau rebranding. Konsumsi informasi dari kanal resmi, dan jangan sebarkan klaim yang belum terverifikasi.
Jangan Terburu-buru Menyimpulkan
Bantu sebarkan informasi yang akurat, bukan yang paling ramai. Bagikan artikel ini ke grup WhatsApp keluarga dan komunitas UMKM Anda. Banyak pelaku usaha kecil sedang menimbang masuk waralaba, dan mereka berhak tahu cara membaca situasi seperti ini dengan jujur: pemisahan mana yang sudah dikonfirmasi, dan mana yang masih dugaan.
Kalau Anda pernah atau sedang menjalankan kemitraan kuliner, tulis pengalaman Anda di kolom komentar. Cerita nyata dari lapangan jauh lebih berguna bagi calon mitra daripada janji di brosur waralaba.
Dapatkan selalu informasi bisnis yang tervalidasi hanya di DailyFinance.id.
Sumber: detikFood dan situs resmi Ayam Gepuk Pak Gembus, dilengkapi data Kementerian Perdagangan dan Asosiasi Franchise Indonesia.
❓ Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
💬 Apakah Ayam Gepuk Pak Gembus benar-benar tutup?
Belum ada konfirmasi resmi. Pak Gembus mengumumkan pamit setelah 13 tahun dengan 12 Oktober 2026 sebagai penanda, tetapi belum dipastikan apakah ini penutupan permanen seluruh gerai, sebagian gerai, atau perubahan merek dan konsep baru.
💬 Berapa jumlah gerai Ayam Gepuk Pak Gembus?
Data Kementerian Perdagangan pada Juni 2026 menyebut sekitar 700 cabang, dengan rincian sekitar 460 gerai di Indonesia dan sekitar 102 gerai di Malaysia.
💬 Berapa modal dan royalti kemitraan Pak Gembus?
Paket kemitraan dibuka mulai Rp125 juta dengan ketentuan ruko minimal 32 meter persegi. Modelnya semi auto pilot tanpa sistem bagi hasil, dengan royalti fee sekitar Rp550.000 per potong ayam. Seluruh keuntungan penjualan menjadi milik mitra.
💬 Siapa pendiri Ayam Gepuk Pak Gembus?
Pak Gembus dirintis Rido Nurul Adityawan pada 2013 dengan modal awal Rp19 juta. Outlet pertamanya dibuka di Srengseng, Pesanggrahan, Jakarta Barat, pada 12 Oktober.