DIRECT ANSWER Wirausaha Muda
Peternak entok kontes usia 22 tahun mencatat omzet kotor Rp70 juta per bulan
  • Siapa: Rizki Kurniawanudin, dikenal sebagai Udin Leader, pemilik Leader Farm di Gembongan, Kecamatan Pungkok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
  • Bisnisnya: budi daya entok untuk pasar penghobi dan kontes, bukan entok pedaging. Nilai satu ekor entok kontes setara 10 hingga 100 ekor entok pedaging.
  • Angka yang beredar: omzet kotor sekitar Rp70 juta dalam sebulan. Angka ini pendapatan kotor, bukan laba bersih, dan biaya produksinya tidak diungkap.
  • Modal awal: bonus dari medali emas kejuaraan tinju saat mewakili Kota Kediri. Ia sempat gagal menjalankan warung kopi yang hanya bertahan tiga bulan.
  • Lini masa: mulai memahami bisnis entok sejak 2020, baru fokus penuh pada peternakan entok pada 2024.
  • Sumber: seluruh angka berasal dari satu wawancara dalam episode Geng Entok di kanal PecahTelur, diterbitkan 21 Oktober 2026. Belum ada verifikasi independen.

Di usia 22 tahun, Mas Udin membangun usaha peternakan entok yang fokus ke pasar penghobi dan kontes. Melalui Leader Farm, ia mencatat omzet kotor sekitar Rp70 juta dalam sebulan, dengan salah satu entoknya bernama Anggora pernah ditawar hingga Rp15 juta setelah memecahkan rekor entok terpanjang di Indonesia dengan panjang 115 cm.

Cerita ini menjadi perhatian bukan karena angkanya besar secara absolut, tetapi karena model bisnisnya berbeda dari peternakan unggas pada umumnya. Mas Udin tidak menjual entok untuk dikonsumsi. Ia menjual anakan dan bibit unggulan yang berpotensi menang kontes, lalu memasarkannya lewat siaran langsung di media sosial.

Kabar ini pertama kali disampaikan melalui episode Geng Entok di kanal PecahTelur yang terbit 21 Oktober 2026, kemudian diringkas dalam unggahan media sosial. Artikel ini membedah model bisnis, angka, dan risikonya berdasarkan wawancara tersebut.

Siapa Mas Udin dan apa yang dibangun

Nama lengkapnya Rizki Kurniawanudin, biasa dipanggil Udin Leader di kalangan permentokan. Kandang Leader Farm berada di Gembongan, Kecamatan Pungkok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ia aktif memakai akun Din Leader di Facebook dan Udin Leader di TikTok untuk memasarkan ternaknya.

Latar belakangnya bukan peternak turunan. Ia adalah atlet tinju yang sudah berlatih sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, pernah mewakili Kota Kediri, dan meraih medali emas dalam sebuah kejuaraan tinju. Uang bonus dari prestasi itulah yang kemudian dipakai sebagai modal mengembangkan peternakan entok.

Perjalanan usahanya tidak lurus. Ia sempat membuka warung kopi, tetapi usaha itu hanya bertahan selama tiga bulan. Pengalaman itu membuatnya kembali menekuni bidang yang sudah dipahaminya sejak 2020, lalu memutuskan fokus mengembangkan peternakan entok pada 2024.

Kini hasil usahanya diputar kembali untuk mengembangkan peternakan, sekaligus dipakai untuk membiayai kuliah serta membeli kebutuhan pribadi seperti telepon genggam dan motor. Dalam wawancara, ia menyatakan tidak meminta uang dari orang tua lagi untuk kebutuhan tersebut.

Model bisnis: entok kontes, bukan entok pedaging

Perbedaan paling menentukan dalam bisnis ini adalah segmen pasar. Peternak entok pada umumnya menjual daging. Mas Udin menjual anakan, yang disebut minti, yang memiliki potensi menjadi juara kontes. Selisih nilai jualnya sangat lebar.

Dalam wawancara, Mas Udin menjelaskan bahwa menjual satu ekor entok kontes biasanya setara dengan 10 ekor entok pedaging, dan kadang bisa setara 100 ekor. Artinya, nilai satu ekor ternak unggulan bisa menyaingi hasil panen puluhan hingga seratus ekor ternak biasa.

Indikator Angka Keterangan
IndikatorOmzet kotor puncak AngkaSekitar Rp70 juta per bulan KeteranganPendapatan kotor, bukan laba bersih
IndikatorEntok Anggora, rekor nasional AngkaPanjang 115 cm, ditawar sampai Rp15 juta KeteranganPemecah rekor entok terpanjang di Indonesia
IndikatorTransaksi terbaik AngkaRp7,5 juta KeteranganEntok betina panjang 89 cm, bobot 4,2 kg, dijual ke pembeli dari Boyolali
IndikatorRasio nilai kontes banding pedaging Angka1 banding 10 hingga 1 banding 100 KeteranganSatu ekor entok kontes setara 10 sampai 100 ekor entok pedaging
IndikatorSkala peternakan AngkaSekitar 200 ekor bersama mitra KeteranganJudul episode menyebut 280 ekor, deskripsi menyebut sekitar 200 ekor
IndikatorJangkauan pasar AngkaBerbagai daerah di Indonesia dan Filipina KeteranganDipasarkan lewat siaran langsung TikTok dan Facebook

Perlu dibaca dengan hati-hati, angka Rp70 juta itu omzet kotor. Dalam wawancara tidak diungkap biaya pakan, biaya indukan, biaya perawatan kesehatan, biaya iklan, maupun laba bersih per bulan. Tanpa angka biaya, tidak mungkin mengetahui margin usaha ini.

Demikian pula angka skala. Judul episode menyebut 280 ekor, sedangkan deskripsi episode menyebut jaringan peternakan berkembang hingga sekitar 200 ekor bersama para mitra. Selisih 80 ekor itu tidak dijelaskan lebih lanjut, apakah karena perbedaan waktu pencatatan atau karena sebagian ternak dimiliki mitra.

Tren pasar yang berganti setiap satu sampai dua tahun

Aspek yang paling sering terlewat dari cerita ini adalah bahwa bisnis entok kontes sangat bergantung pada tren. Mas Udin sendiri menjelaskan pergerakan trennya dalam wawancara.

Periode Tren yang Dicari Penghobi
Periode2020 sampai 2023 Tren yang Dicari PenghobiEntok bertubuh tegap dengan peci hitam
Periode2024 sampai 2025 Tren yang Dicari PenghobiEntok bertubuh panjang
Periode2026 Tren yang Dicari PenghobiEntok bertulangan besar, jenis brenggolo

Konsekuensinya langsung terlihat pada aset utama peternakan. Entok Anggora yang panjangnya 115 cm dan pernah ditawar Rp15 juta adalah produk unggulan pada tren 2024 sampai 2025. Pada tren 2026 yang mencari tulangan besar, nilai aset seperti Anggora belum tentu sama.

Ini berarti bisnis ini punya risiko umur aset yang pendek. Indukan yang mahal hari ini bisa kehilangan nilai jual tinggi ketika tren berganti, kecuali peternak mampu memprediksi pergeseran berikutnya dan menyiapkan bibit yang sesuai.

Kemampuan membaca tren inilah yang menurut Mas Udin menjadi faktor utama. Dalam wawancara ia menyebut bahwa yang paling penting adalah bisa membaca peluang, karena tren permentokan terus berganti.

Yang membuat entok layak kontes

Menurut penjelasan Mas Udin, kualitas ternak kontes ditentukan sejak pemilihan indukan. Ia memperhatikan beberapa hal secara berurutan, yaitu pemilihan indukan, pertumbuhan anakan, kebersihan kandang, pemberian pakan, dan perawatan kesehatan.

Dari sisi pemasaran, media sosial menjadi kanal utama. Ia aktif melakukan siaran langsung di TikTok untuk memperkenalkan entok unggulannya kepada komunitas penghobi. Strategi ini membuka pasar sampai Filipina, sesuatu yang sulit dicapai lewat penjualan konvensional di kandang.

Perlu dicatat, nilai transaksi di pasar ini ditentukan oleh kesepakatan antara penjual dan pembeli, bukan melalui harga resmi. Entok Anggora ditawar sampai Rp15 juta, entok betina panjang 89 cm terjual Rp7,5 juta. Kedua angka itu adalah hasil negosiasi pada tren tertentu, bukan patokan harga yang berlaku umum.

Peluang dan risiko yang perlu dipertimbangkan

Bagi pembaca yang tertarik mencoba jalur serupa, ada peluang nyata sekaligus risiko yang perlu dipisahkan dengan jelas.

Peluang pertama, nilai jual per ekor jauh di atas ternak pedaging. Dengan rasio 1 banding 10 hingga 1 banding 100, skala kecil pun bisa menghasilkan nilai transaksi besar. Peternakan sekitar 200 ekor tidak harus besar untuk menghasilkan omzet puluhan juta per bulan.

Peluang kedua, pasar penghobi yang terhubung lewat media sosial. Siaran langsung dan komunitas daring memungkinkan peternak kecil menjangkau pembeli lintas provinsi bahkan lintas negara tanpa jalur distribusi besar.

Risiko pertama, ketergantungan pada tren. Seperti dijelaskan di atas, tren berganti setiap satu sampai dua tahun. Peternak yang hanya mengikuti tren yang sudah lewat akan kesulitan menjual aset dengan nilai tinggi.

Risiko kedua, modal awal indukan unggulan tidak murah. Harga Rp7,5 juta sampai Rp15 juta per ekor menunjukkan bahwa masuk ke segmen kontes mensyaratkan modal yang tidak kecil, apalagi untuk membangun koleksi indukan yang benar-benar unggul.

Risiko ketiga, angka omzet mudah disalahpahami. Rp70 juta per bulan adalah omzet kotor pada kondisi terbaik. Tanpa data biaya produksi, angka itu tidak bisa dipakai sebagai perkiraan laba. Calon peternak perlu menghitung sendiri biaya pakan, indukan, perawatan, dan pemasaran sebelum meniru model ini.

Risiko keempat, cerita sukses butuh waktu. Mas Udin mulai memahami bisnis entok sejak 2020, baru fokus penuh pada 2024, dan sempat gagal pada usaha warung kopi sebelumnya. Jalur ini bukan pintu masuk cepat.

Catatan redaksi dan batas artikel ini

Seluruh angka dan keterangan dalam artikel ini berasal dari satu sumber, yaitu wawancara Mas Udin dalam episode Geng Entok di kanal PecahTelur yang terbit 21 Oktober 2026. Belum ada verifikasi independen terhadap angka omzet, jumlah ternak, maupun nilai transaksi yang disebutkan.

Angka Rp70 juta per bulan dikutip sebagai omzet kotor sesuai keterangan sumber, bukan laba bersih. Data biaya produksi, jumlah karyawan, dan struktur biaya tidak diungkap dalam wawancara, sehingga margin usaha tidak dapat dihitung dari informasi yang tersedia.

Perbedaan jumlah ternak antara 280 ekor pada judul episode dan sekitar 200 ekor pada deskripsi episode ditampilkan apa adanya tanpa dipilih salah satunya, karena sumber tidak memberi penjelasan mengenai selisih tersebut.

Artikel ini bukan materi promosi dan tidak memuat tautan afiliasi. Informasi kontak narasumber yang dicantumkan pada deskripsi episode asli tidak dimuat di sini. Pembaca yang ingin bertransaksi disarankan melakukan pengecekan sendiri karena harga dan kualitas ternak sangat bergantung pada tren serta hasil kesepakatan.

Foto ilustrasi entok Muscovy. Sumber Foto: Wikimedia Commons, foto Francis Franklin, lisensi CC BY-SA 4.0, dipakai sebagai gambaran kategori, bukan dokumentasi Leader Farm.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Berapa omzet Leader Farm peternakan entok di Blitar?

Pemilik Leader Farm, Mas Udin, menyebut omzet kotor sekitar Rp70 juta dalam sebulan. Angka itu adalah pendapatan kotor, bukan laba bersih. Biaya produksi, pakan, dan perawatan tidak diungkap dalam wawancana sumber.

Mengapa entok kontes jauh lebih mahal daripada entok pedaging?

Karena segmen pasarnya berbeda. Mas Udin menjelaskan nilai satu ekor entok kontes setara 10 hingga 100 ekor entok pedaging. Entok kontes dinilai berdasarkan bentuk, ukuran, dan potensi menang kontes, bukan berdasarkan bobot daging.

Berapa harga entok kontes termahal yang pernah ditawar?

Entok bernama Anggora, pemecah rekor entok terpanjang di Indonesia dengan panjang 115 cm, pernah ditawar sampai Rp15 juta. Transaksi terbaik lain adalah entok betina panjang 89 cm dan bobot 4,2 kg yang terjual Rp7,5 juta ke pembeli dari Boyolali.

Apa modal awal untuk memulai ternak entok kontes?

Mas Udin memakai bonus dari medali emas kejuaraan tinju saat mewakili Kota Kediri sebagai modal awal. Ia sempat gagal menjalankan warung kopi yang hanya bertahan tiga bulan sebelum fokus ke peternakan entok pada 2024.

Apakah bisnis entok kontes berisiko?

Ya. Tren bentuk entok yang dicari penghobi berganti setiap satu sampai dua tahun, dari entok tegap berpeci hitam pada 2020 sampai 2023, entok panjang pada 2024 sampai 2025, hingga entok tulangan besar pada 2026. Aset bernilai tinggi pada tren lama belum tentu sama nilainya pada tren baru.

Dari mana angka dalam artikel ini berasal?

Seluruh angka berasal dari wawancana Mas Udin dalam episode Geng Entok di kanal PecahTelur yang terbit 21 Oktober 2026. Belum ada verifikasi independen terhadap angka omzet, jumlah ternak, maupun nilai transaksi yang disebutkan.