- Peristiwa: Kementerian Perdagangan RI dan Nestle Indonesia menandatangani nota kesepahaman pada 15 Oktober 2026 di ICE BSD, Tangerang, dalam rangka Trade Expo Indonesia 2026.
- Target utama: komitmen ekspor minimal Rp10 triliun selama tiga tahun ke depan, disampaikan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini.
- Target volume: ekspor produk jadi dari empat pabrik Nestle di Indonesia diperkirakan melampaui 50.000 ton hingga akhir 2026, dikirim ke lebih dari 30 negara di tiga benua.
- Cakupan produk: lebih dari 70 jenis produk diekspor, dengan merek seperti NESCAFE dan MILO, ke Filipina, Bangladesh, Australia, Timur Tengah, dan Afrika Utara.
- Mitra petani: Nestle bekerja sama dengan 28 koperasi dan lebih dari 12 ribu peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur, serta membina sekitar 12.500 petani kopi di Lampung.
- Catatan verifikasi: angka investasi US$670 juta dan 25.000 mitra peternak sapi perah yang beredar di media sosial tidak ditemukan di siaran pers resmi Nestle. Rinciannya ada di bagian cek fakta.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan Nestle Indonesia memperkuat kerja sama ekspor melalui penandatanganan nota kesepahaman. Penandatanganan dilanjutkan dengan seremoni pelepasan ekspor produk olahan kopi siap minum produksi Indonesia dengan tujuan Australia.
Kegiatan berlangsung pada Kamis 15 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, sebagai bagian dari rangkaian Trade Expo Indonesia 2026. Menteri Perdagangan Budi Santoso menghadiri acara tersebut bersama Presiden Direktur PT Nestle Indonesia Georgios Badaro dan Direktur Corporate Affairs Fajar Dewantara.
MoU ini menjadi titik balik penting karena menjadikan ekspor sebagai agenda bersama pemerintah dan pelaku usaha, bukan lagi sekadar aktivitas perusahaan. Dari sisi pemerintah, ini menyentuh program Desa Binaan Ekspor. Dari sisi Nestle, ini menyambung langsung ke jaringan pasok mancanegara yang sudah dimiliki perusahaan.
Isi MoU dan target ekspor yang disepakati
Inti kerja sama ini adalah komitmen ekspor. Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini, menyatakan bahwa Nestle berkomitmen merealisasikan nilai ekspor minimal Rp10 triliun dalam tiga tahun ke depan melalui kerja sama tersebut. Setara dengan rata-rata Rp3,33 triliun per tahun.
Fajarini menambahkan bahwa kerja sama itu bertujuan memperkuat daya saing produk pertanian Indonesia, terutama lewat peningkatan kapasitas dan produktivitas petani. Upaya itu akan didukung program Desa Binaan Ekspor yang diharapkan bisa menghubungkan produk pertanian lokal dengan jaringan pasok mancanegara Nestle.
Komoditas yang disebut berpotensi diperkuat melalui kerja sama tersebut antara lain kopi, cokelat, kelapa, dan rempah-rempah. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan apresiasi atas kontribusi Nestle dalam mengembangkan produk lokal berstandar internasional, terutama yang membantu UMKM, peternak, dan para petani kopi.
Dari sisi volume, Presiden Direktur Nestle Indonesia Georgios Badaro menyatakan volume ekspor produk jadi dari empat pabrik perusahaan di Indonesia diperkirakan melampaui 50.000 ton hingga akhir 2026. Produk tersebut dikirim ke lebih dari 30 negara di tiga benua.
Rincian angka yang dikonfirmasi
Berikut angka yang dapat ditelusuri ke siaran pers resmi Nestle Indonesia, laporan tirto.id, atau keterangan pejabat yang dikutip media. Semua angka ini menjadi dasar artikel ini.
| Indikator | Angka | Sumber |
|---|---|---|
| IndikatorKomitmen nilai ekspor | AngkaMinimal Rp10 triliun dalam 3 tahun | SumberFajarini, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, dikutip tirto.id |
| IndikatorTarget volume ekspor | AngkaMelampaui 50.000 ton hingga akhir 2026 | SumberGeorgios Badaro, dikutip tirto.id |
| IndikatorNegara tujuan | AngkaLebih dari 30 negara di tiga benua | SumberSiaran pers Nestle Indonesia 15 Oktober 2026 |
| IndikatorJenis produk diekspor | AngkaLebih dari 70 jenis produk | SumberSiaran pers Nestle Indonesia 15 Oktober 2026 |
| IndikatorJumlah pabrik | Angka4 pabrik di 4 provinsi | SumberSiaran pers Nestle Indonesia 15 Oktober 2026 |
| IndikatorPeternak sapi perah mitra | Angka28 koperasi dan lebih dari 12 ribu peternak | SumberSiaran pers Nestle Indonesia 21 Juli 2026 |
| IndikatorPetani kopi dibina | AngkaSekitar 12.500 orang di Lampung, lebih dari 30 tahun | SumberFajar Dewantara, dikutip tirto.id |
| IndikatorPenyerapan susu segar | AngkaLebih dari US$60 juta per tahun | SumberSiaran pers Nestle Indonesia 21 Juli 2026 |
| IndikatorProduksi susu Jawa Timur 2025 | Angka475.390 ton | SumberSiaran pers Nestle Indonesia 21 Juli 2026 |
| IndikatorMasa operasi di Indonesia | AngkaLebih dari 55 tahun, hadir sejak 1971 | SumberSiaran pers Nestle Indonesia 15 Oktober 2026 |
Dari tabel di atas, target Rp10 triliun dalam tiga tahun setara dengan rata-rata Rp3,33 triliun per tahun. Sementara itu, target 50.000 ton ke lebih dari 30 negara berarti rata-rata sekitar 1.667 ton per negara tujuan pada tahun berjalan.
Cek fakta: angka di media sosial tidak sesuai siaran pers resmi
Unggahan media sosial yang menjadi pemicu artikel ini memuat dua angka besar, yaitu investasi US$670 juta dan lebih dari 25.000 mitra peternak sapi perah. Kedua angka itu tidak ditemukan di siaran pers resmi Nestle Indonesia, dan salah satunya bertentangan langsung dengan rilis perusahaan sendiri.
| Klaim | Angka Siaran Pers Resmi | Selisih |
|---|---|---|
| KlaimInvestasi US$670 juta | Angka Siaran Pers ResmiSekitar US$617 juta per siaran pers peringatan 50 tahun kemitraan peternak | SelisihUS$53 juta atau 8,6 persen di atas angka resmi |
| KlaimLebih dari 25.000 mitra peternak sapi perah | Angka Siaran Pers ResmiLebih dari 13.000 peternak dari 28 koperasi per siaran pers 50 tahun, dan lebih dari 12 ribu peternak per siaran pers 21 Juli 2026 | SelisihHampir dua kali lipat angka resmi |
| KlaimEkosistem melibatkan lebih dari 30.000 orang | Angka Siaran Pers ResmiTidak ditemukan di siaran pers Nestle | SelisihBelum dapat diverifikasi |
| Klaim5 kantor distribusi dan 9 kantor penjualan | Angka Siaran Pers ResmiTidak ditemukan di siaran pers Nestle | SelisihBelum dapat diverifikasi |
Mengenai investasi, siaran pers Nestle untuk peringatan 50 tahun kemitraan dengan peternak sapi perah menyebut rincian bertahap, yaitu sekitar US$100 juta pada 2019 untuk memperluas tiga pabrik dan sekitar US$220 juta pada 2021 untuk membangun pabrik Bandaraya di Jawa Tengah, sehingga total investasi hingga saat itu mencapai sekitar US$617 juta. Angka US$670 juta yang beredar hanya muncul pada kanal media sosial tersebut, tanpa rilis resmi pendamping.
Mengenai jumlah peternak, selisihnya lebih besar. Siaran pers Nestle 21 Juli 2026 menyebut 28 koperasi dan lebih dari 12 ribu peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur, sementara siaran pers peringatan 50 tahun menyebut lebih dari 13.000 peternak dari 28 koperasi. Keduanya berada di kisaran 12 ribu hingga 13 ribu, bukan 25 ribu.
Ada kemungkinan angka 25.000 berasal dari penjumlahan dua kelompok petani yang berbeda, yaitu peternak sapi perah di Jawa Timur dan petani kopi di Lampung. Penjumlahan keduanya menghasilkan sekitar 25.500 orang. Namun penjumlahan itu bukan mitra peternak sapi perah, melainkan gabungan dua program yang terpisah. Menyebutnya sebagai mitra peternak sapi perah membuat angka tersebut tidak akurat.
Untuk pembaca yang membutuhkan angka resmi, rujukan yang dapat dipakai adalah laman siaran pers Nestle Indonesia dan keterangan pejabat yang dikutip media nasional. Redaksi tidak menemukan rilis resmi Nestle yang memuat angka US$670 juta.
Apa artinya bagi petani dan UMKM Indonesia
MoU ini bukan sekadar target ekspor di atas kertas. Dampaknya menyentuh sisi hulu, yaitu petani dan peternak, lewat tiga jalur konkret.
Pertama, akses ke rantai pasok mancanegara melalui Desa Binaan Ekspor. Fajarini menyebut bahwa penguatan program Desa Binaan Ekspor bertujuan supaya produk pertanian lokal bisa masuk ke rantai suplai dunia melalui jaringan yang dimiliki Nestle. Artinya, petani tidak lagi bergantung pada pasar lokal semata.
Kedua, peningkatan kapasitas dan produktivitas. Program pembinaan Nestle di bidang susu sudah berjalan sejak 1975, bermula dari penyerapan 160 liter susu segar dari sebuah koperasi di Pujon, Malang. Kini perusahaan menyerap susu segar lebih dari US$60 juta per tahun dari peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur.
Ketiga, adopsi teknologi pertanakan. Sejak diperkenalkan pada 2023, Nestle Indonesia telah mendukung pembangunan lebih dari 50 unit kandang semi tertutup di enam wilayah Jawa Timur, yaitu Malang, Pasuruan, Probolinggo, Ponorogo, Jombang, dan Blitar. Penerapan sistem ini mampu meningkatkan produktivitas susu hingga lebih dari 20 persen dengan mengurangi stres panas pada ternak.
| Program | Cakupan | Hasil yang Dilaporkan |
|---|---|---|
| ProgramKemitraan peternak sapi perah | Cakupan28 koperasi dan lebih dari 12 ribu peternak di Jawa Timur, sejak 1975 | Hasil yang DilaporkanPenyerapan susu segar lebih dari US$60 juta per tahun |
| ProgramKandang semi tertutup | CakupanLebih dari 50 unit di 6 wilayah Jawa Timur sejak 2023 | Hasil yang DilaporkanProduktivitas susu naik lebih dari 20 persen |
| ProgramPembinaan petani kopi | CakupanSekitar 12.500 petani di Lampung selama lebih dari 30 tahun | Hasil yang DilaporkanMenjadi bahan baku produk ekspor NESCAFE |
| ProgramCentral Java Milk District | CakupanPerluasan program pengembangan peternak ke Jawa Tengah sejak 2022 | Hasil yang DilaporkanMemperluas basis pasokan susu di luar Jawa Timur |
| ProgramSerah terima sapi perah impor | Cakupan90 ekor ke 3 koperasi di Jawa Timur pada 21 Juli 2026 | Hasil yang DilaporkanMeningkatkan kualitas genetik ternak rakyat |
Perlu dilihat juga posisi Jawa Timur dalam perhitungan ini. Siaran pers Nestle menyebut produksi susu Jawa Timur mencapai 475.390 ton pada 2025 dan menegaskan provinsi tersebut sebagai sentra produksi susu sapi terbesar di Indonesia. Dengan demikian, ekosistem yang dibangun perusahaan selama lima dekade berkontribusi langsung pada angka produksi nasional.
Dari sisi UMKM, keterlibatan tidak lewat jalur langsung melainkan lewat rantai pasok. Budi Santoso menyebut bahwa kehadiran Nestle Indonesia telah membantu produk lokal berkembang dan mampu memenuhi standar internasional, yang sekaligus membuka peluang bagi UMKM, peternak, dan petani kopi untuk masuk ke standar yang sama.
Catatan redaksi dan batas artikel ini
Artikel ini disusun dari siaran pers resmi Nestle Indonesia, laporan tirto.id tentang penandatanganan MoU pada 15 Oktober 2026, serta keterangan pejabat Kemendag yang dikutip media. Informasi awal berasal dari unggahan media sosial, yang dipakai sebagai pemicu pencarian dan diverifikasi silang ke sumber primer tersebut.
Seluruh angka pada artikel ini dihitung ulang dari data yang dilaporkan, bukan diketik manual. Rata-rata Rp3,33 triliun per tahun berasal dari Rp10 triliun dibagi tiga tahun. Rata-rata 1.667 ton per negara berasal dari 50.000 ton dibagi 30 negara. Selisih US$53 juta berasal dari 670 dikurangi 617.
Dua klaim dari unggahan media sosial, yaitu investasi US$670 juta dan lebih dari 25.000 mitra peternak sapi perah, tidak dikutip sebagai fakta dalam artikel ini karena tidak ditemukan di siaran pers resmi Nestle. Keduanya dibahas terpisah di bagian cek fakta beserta angka pembandingnya.
Target ekspor Rp10 triliun dalam tiga tahun dan 50.000 ton hingga akhir 2026 adalah komitmen yang disampaikan pejabat dan perusahaan, bukan capaian yang sudah terealisasi. Realisasinya baru dapat diperiksa setelah periode berakhir atau melalui laporan berkala pemerintah dan perusahaan.
Redaksi DailyFinance.id tidak menerima imbalan dari pihak mana pun terkait isi artikel ini. Artikel ini bukan materi promosi produk, dan tidak memuat tautan afiliasi.
Foto ilustrasi peternakan sapi perah. Sumber Foto: Wikimedia Commons, foto Mikinisk, lisensi CC BY-SA 4.0, dipakai sebagai gambaran kategori, bukan dokumentasi peternak mitra Nestle Indonesia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa isi MoU antara Nestle Indonesia dan Kementerian Perdagangan?
MoU ditandatangani pada 15 Oktober 2026 di ICE BSD Tangerang dalam rangka Trade Expo Indonesia 2026. Intinya adalah kerja sama mendorong ekspor produk olahan dan bahan baku berkualitas Indonesia ke pasar internasional, disertai komitmen ekspor minimal Rp10 triliun dalam tiga tahun.
Berapa target ekspor Nestle Indonesia hingga akhir 2026?
Presiden Direktur Nestle Indonesia Georgios Badaro menyatakan volume ekspor produk jadi dari empat pabrik perusahaan di Indonesia diperkirakan melampaui 50.000 ton hingga akhir 2026, dikirim ke lebih dari 30 negara di tiga benua. Saat ini perusahaan mengekspor lebih dari 70 jenis produk.
Berapa jumlah peternak sapi perah mitra Nestle Indonesia?
Berdasarkan siaran pers Nestle Indonesia 21 Juli 2026, perusahaan bekerja sama dengan 28 koperasi dan lebih dari 12 ribu peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur. Siaran pers peringatan 50 tahun kemitraan menyebut lebih dari 13.000 peternak dari 28 koperasi.
Benarkah investasi Nestle Indonesia mencapai US$670 juta?
Angka US$670 juta hanya ditemukan pada unggahan media sosial dan tidak ada di siaran pers resmi Nestle. Siaran pers peringatan 50 tahun kemitraan peternak menyebut total investasi sekitar US$617 juta, dengan rincian US$100 juta pada 2019 dan US$220 juta pada 2021.
Benarkah Nestle memiliki 25.000 mitra peternak sapi perah?
Tidak sesuai siaran pers resmi. Nestle menyebut 28 koperasi dan lebih dari 12 ribu hingga 13 ribu peternak sapi perah. Angka sekitar 25.000 lebih mendekati gabungan peternak sapi perah Jawa Timur dan petani kopi Lampung yang jumlahnya sekitar 12.500 orang, yaitu dua program yang terpisah.
Apa dampak MoU ini bagi petani dan UMKM Indonesia?
Kerja sama ini membuka akses petani ke rantai pasok global melalui program Desa Binaan Ekspor, meningkatkan kapasitas dan produktivitas, serta mendorong adopsi teknologi seperti kandang semi tertutup yang terbukti menaikkan produktivitas susu lebih dari 20 persen.